BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

If I could pretend that I'm asleep,
When my tears start to fall
I peek out from behind these walls..
I think nobody knows..















Thursday, January 7, 2010

Iktibar Ramadhan by A.Samad Said




Kita koyak selembar taqwim—Ramadhan mensyahdu diri.

Foto-foto di dinding memang jatuh, di lantai lusuh.

Kini, dalam Ramadhan, kita ciumi sejarah

setelah tiba-tiba terdampar tua—

sedikit nikmat, sekelumit sengat, serangkai lara.

Kita koyak taqwim lagi, terkenang:

Album keluarga luntur dan keruh. Tentunya foto

di dinding semakin luruh.

Kita pernah anak, gemar mendengar detap ranting terpijak;

melonjak sebaik terasa titis hujan di dahi.

Dan kita pernah berebut selimut waktu rebut.

Mendengar siren, berkecah kita menyerbu shelter.

Kita tidak mengerti—tetap takut, tapi.

Sesekali kita hadapi ibu meramping diri dengan

jamu Jawa; merapi rambut dengan sikat Tionghua.

Dan pada malam Jumaat tak tersangka kita terserempak

ibu diciumi ayah. Kita tidak mengerti—tetap

takut, tapi, kerana ibu dan ayah berdekah lama.

Dan kita juga sempat mengusik datuk yang terkejut

tersepak songkok. Tak kita tahu apakah sekadar nahas

ia atau sebenarnya iktibar bangsa.

Pun, kita pernah Bantu menukar barut dan lampin adik;

mencorengkan bedak sejuk di muka mak su yang molek;

menghitamkan kening kakak, kemudian cepat

menyorokkan botol celak. Juga, kita sempat

mencuri sentil nenek—lembap dan lembik.

Tidak kita tahu apakah hal biasa ia

atau masih iktibar bangsa.

Kita pernah tergamam melihat Maria Montez berkucup;

pernah terketar menyaksi gelek Samia Gamal berkocak;

kita menyondol ketiak ibu kononnya terlalu gugup dan malu.

Di dapur, kita girang mendengar desih lempeng di kuali;

di tandas, pernah kita terhidu minyak sapi Punjabi.

Benar, kita tiba-tiba tersadai tua—

dari bermain keleret, terkinja di lantai joget;

dari memukul rebana, teringin coli Miss Tijah.

Dan, lebih uzur, ketika teserempak tepak sirih

dan gobek nenek—menangis diri dalam sunyi.

Mengerti, tetap takut, tapi.

Abad lalu rupanya yang tertinggal; masih boleh diingat

bosyi Jepun dan ceongsam koyak—cara Nippon membela

dan melanyak. Kini, mula dihayat kerjip computer, sempat

disaksi saham mencerut, juga didengar Adun mencarut.

Memang berubah musim menguji diri yang terlalu kalut.

Kita memang perlu belajar tidak menyesal, memahami tamsil

Habib Noh dan Tanjung Pagar; membanggai Langkawi

dan Menara Kembar; mendoa berbaiklah Mahathir dan Anwar.

Dan seperti manisnya jenaka datuk; sekali demam

sekali batuk. Sudah terjemput diri ke dunia baqa.

Tapi foto di dinding semakin jatuh. Tak juga kita

tahu apakah hal biasa ia atau memangnya iktibar bangsa.

Bangsar Utama-Durian Tunggal
21 Julai-15 Ogos 1999

No comments:

Post a Comment